Diberdayakan oleh Blogger.

Khoirunnas, 'anfauhum linnas


RSS

Rabu, 26 Desember 2012

Pesan-Pesan K.H. Hasyim Asy'ari


disalin dari Situs Resmi Pondok Pesantren Tebuireng Jombang

Bismillahirrahmanirrahim
Dari yang serendah-rendahnya umat, bahkan orang paling tidak berharga ialah Muhammad Hasyim Asy’ari, semoga Allah swt. mengampuni keturunannya dan seluruh umat muslim. Kepada teman-teman yang mulia dari penduduk tanah Jawa dan sekitarnya, baik ULAMA maupun MASYARAKAT UMUM…
Kepada saudaraku yang mulya kaum Muslimin, demikian juga para ulama dan orang-orang yang masih awam. 

Assalaamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.
Sesudah saya mengucapkan salam, telah sampai berita kepada saya bahwa saat ini di antara saudara-saudara masih berkobar bara fitnah dan pertikaian. Lalu saya merenungkan apakah yang menjadi penyebab fitnah dan persilihan itu karena umat di zaman sekaran gini telah berani mengganti dan merubah kitab Allah swt. dan Hadis Rasulullah saw.
Allah swt. berfirman,
Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara, sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (surat Al-Hujurat; 10)

Keadaan umat sekarang ini menganggap bahwa saudaranya mukmin sebagai musuh dan tidak mau memperbaiki bahkan merusak persaudaraan. Rasulullah saw. bersabda: “Janganlah kalian saling menebar iri dengki, jangan kalian saling membenci dan jangan saling bermusuhan. Jadilah kalian bersaudara wahai hamba-hamba Allah swt.
Sementara masyarakat zaman sekarang saling iri dengki, saling membenci, saling bersaing (dalam urusan dunia)/saling berebut dan bermusuhan.
Wahai para ulama yang fanatik terhadab sebagian madzhab dan pendapat (ulama madzhab), tinggalkanlah fanatik kalian terhadap urusan-urusan far’iyyah (tidak fundamental), yang di dalamnya, para ulama masih menawarkan dua pendapat, yakni pendapat yang mengatakan bahwa, “Setiap mujtahid (niscaya) benar.” Serta pendapat yang mengatakan, “Mujtahid yang benar (pasti hanya) satu, namun mujtahid yang salah tetap mendapat pahala.

Tinggalkanlah fanatik kalian! Dan tinggalkanlah jurang yang akan merusak kalian! Lakukanlah pembelaan terhadap agama Islam! Berjuanglah kalian untuk menangkis orang-orang yang mencoba melukai Al-Quran dan Sifat-sifat Allah swt. berjuanglah kalian untuk menolak orang-orang yang berilmu sesat dan akidah yang merusak. Jihad untuk menolak mereka adalh wajib. Dan sibukkanlah diri kalian untuk senantiasa berjihad melawan mereka.
Maka marilah saudaraku, kita sekalian mengorbankan diri untuk melaksanakan kewajiban yang demikian. 

Wahai sekalian manusia..!
Di antara kamu sekalian banyak orang menjadi kafir, bahkan sudah memenuhi berbagai negeri ini, maka siapakah yang akan mengajak berdialog mereka, sarasehan dengan mereka dan siapakah yang memberi petunjuk kepada orang-orang tersebut????

Wahai para ulama!
Untuk urusan seperti ini (membela Al-Quran dan menolak orang yang menodai agama), maka bersungguh-sungguhlah kalian dan silakan kalian berfanatik. Adapun fanatik kalian untuk urusan-urusan agama yang bersifat far'iyyah dan mengarahkan manusia ke madzhab tertentu atau pendapat tertentu, maka itu adalah suatu hal yang tidak akan diterima Allah swt. dan tidak disenangi Rasulullah saw.

Apabila di antara saudara ada yang mengharuskan yang demikian itu, maka tidak lebih dari hanya karena rasa memihak, berebut pengaruh dan karena rasa dengki semata.

Seumpanya saja Imam Syafi'I, Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Ahmad, Ibnu Hajar dan Imam Ramly masih hidup (di tengah-tengah kita), sungguh, semua mereka tidak akan senang dan sama sekali mengakui perjuangan saudara dan tidak mau bertanggung jawab atas apa yang telah kalian perbuat.

Kalian mengingkari sesuatu yang masih dikhilafi para ulama, sementara kalian melihat banyak orang yang tak terhitung jumlahnya, meninggalkan shalat yang hukumannya, menurut Imam Syafi'I, Imam Malik dan Imam Ahmad, adalah potong leher. Dan kalian tidak mengingkarinya sedikitpun. Engkau tentunya tidak menginkari telah melihat diantara banyak tetangga kalian tidak ada melaksanakan shalat, tapi kalian diam seribu bahasa dan tidak menegurnya.

Selanjutnya apakah perlunya dan gunanya engkau berselisih pada soal kecil dan urusan far'iyyah yang dalam masalah tersebut para ahli fiqih juga berselisih. Sementara pada saat yang sama kalian tidak pernah mengingkari sesuatu yang nyata-nyata diharamkan agama seperti zina, riba, minum khamar dll...
Sama sekali tidak pernah terbersit dalam benak kalian untuk terpanggil mengurusi hal-hal yang diharamkan Allah swt. kalian hanya terpanggil oleh rasa fanatisme kalian kepada Imam Syafi'I dan Imam Ibnu Hajar. Hal itu akan menyebabkan tercerai-berainya persatuan kalian, terputusnya hubungan keluarga kalian, terkalahkannya kalian oleh orang-orang yang bodoh, jatuhnya wibawa kalian di mata masyarakat umum dan harga diri kalian akan jadi bahan omongan orang-orang bodoh.

Akhirnya dengan demikian engkau menambah rusaknya orang-orang yang bodoh tadi karena ucapan-ucapan mereka. Itu semua terjadi karena daging kalian telah teracuni dan kalian telah merusak diri kalian dengan dosa-dosa besar yang kalian perbuat.

Wahai para ulama !
Ketika engkau melihat orang-orang yang menjalankan amal menurut pendapat sebagian Imam yang sudah dianggap madzhabnya meskipun dho'if padahal engkau tidak menyetujui tindakannya itu, maka janganlah engkau berbuat kasar dan keras kepada mereka, berikanlah petunjuk kepada mereka dengan cara-cara yang halus dan bijaksana. Namun jika orang-orang tersebut tidak juga mau menuruti nasehatmu, dan petunjukmu, janganlah mereka engkau anggap sebagai musuh. Perumpamaan orang yang melakukan kekerasan dan permusuhan itu seperti orang-orang yang mendirikan bangunan rumah gedung dan istana kemudian merusaknya.

Sekali-kali janganlah yang demikian itu sampai terjadi yang akan menyebabkan perpisahan, perpecahan, perselisihan dan perdebatan. Yang demikian itu adalah suatu kesalahan yang amat berbahaya dan suatu dosa besar yang akan menghancurkan kesatuan umat dan menutup kebaikan dan kejayaan umat.
Oleh karena yang demikian itu, maka Allah melarang hambanya para kaum mukminin berbuat perselisihan dan selalu memberi nasehat betapa buruk akibatnya serta akan menumbuhkan berbagai kejadian dan peristiwa yang menyedihkan.

Allah berfirman: "Dan sekali-kali engkau sekalian jangan berselisih, sebab perselisihan itu akan menimbulkan kerapuhan dan menghilangkan kewibawaan."

Wahai para Muslimin..!
Sungguh, kejadian yang terlihat setiap hari, jadikanlah nasehat. Orang yang pandai itu ialah orang yang dapat memanfaatkan dan mengambil faedah dari pengalaman dan kejadian tersebut lebih banyak dari manfaat yang terdapat dalam beberapa khutbahnya juru dakwah dan nasehat orang yang suka memberikan petunjuk.
Inilah beberapa kejadian dan peristiwa yang kita alami setiap waktu. Apakah belum juga tiba saatnya untuk memanfaatkan ibarat percontohan dan memanfaatkan petunjuk? Dan apakah belum juga tiba saatnya kita sadar dan ingat dari suatu situasi mabuk lalu ingat dan sadar dari lupa? Kita tahu dan mengerti bahwa keberuntungan serta kejayaan kita tergantung kepada suasana saling tolong-menolong, tergantung kepada persatuan, tergantung kepada bersih dan sucinya batin kita, serta tergantung kepada kepada ikhlasnya batin kita sekalian. Akankah kita sengaja tetap dalam perpisahan dan tega dalam perpecahan serta ucapan-ucapan yang kosong? Akankah kita tetap dalam kedengkian serta sengaja menyesatkan diri seperti pada waktu-waktu yang telah lalu?

Sesungguhnya agama kita ini hanya satu yaitu ISLAM, satu madzhab kita ialah Syafi'i dan tanah air kita satu serta kita semua ialah golongan AHLI SUNNAH WAL JAMAAH dan bukan golongan Mu'tazilah, bukan Jabariyah dan sesamanya.

Maka demi Allah, sungguh, bahwa perpecahan dan tega dalam perselisihan, saling mendengki dan sesat seperti waktu-waktu yang lalu adalah bahaya yang jelas dan kerugian yang besar.

Wahai Para Kaum Muslimin..!
Semoga kita takut kepada Allah, dan saya berharap agar rukunlah dari perselisihan yang terdapat di antara kita sekalian. Saya anjurkan untuk saling tolong-menolong dalam masalah kebaikan dan takwa kepada Allah. Dan sekali-kali jangan saling tolong-menolong dalam masalah dosa-durhaka dan permusuhan, Tuhan Allah akan bersama engkau dengan segala rahmatnya. Dan janganlah kamu seperti orang yang berkata "kita sudah mendengar" padahal orang-orang tersebut sebenarnya tidak mendengarkan.

Semoga keselamatan akan tetap menyertai kita dari awal sampai akhir.

 Follow my twitter @saaannn_3


Sabtu, 22 Desember 2012

MENYAMBUT SI BUAH HATI

Menghadapi kehamilan bagi pengantin baru merupakan hal yang sangat tabu dalam kehidupannya, banyak usaha yang dilakukan agar buah hatinya sehat dan selamat. Namun tidak sedikit yang terpaku pada hal yang bersifat lahiriyah saja, karena memang hal ini yang tampak oleh indera kita. Padahal kerohanian sang buah hati tidak kalah penting untuk dijaga dan diperhatikan, karenanya sangat baik jika kita mempersiapkan apa yang menjadi kebutuhan buah hati mulai dari masa dalam kandungan.

 لا حولا و لا قوة إلا بالله Kita hanya berusaha, namun Allah akan memberikan apa yang menjadi sangkaan hamba-Nya. Semoga tulisan singkat yang sangat sederhana ini, kiranya mampu menjadi obat dan embun bagi kita dalam menanti sang buah hati. والله المستعان

  • Apabila suami menginginkan anak laki-laki, maka hendaknya meletakkan tangannya di atas perut isterinya sejak awal kehamilan dengan membaca doa di bawah ini sebanyak 3 kali
أَللَّهُمَّ إِنِّى أُسَمِّى ماَ فِى بَطْنِهاَ مُحَمَّداً فَاجْعَلْهُ ذَكَراً

  • Disunatkan bagi orang hamil membaca pada masa kehamilan
  1. Satu, Dua dan Tiga bulan Surat Muhammad dan al-Luqman
  2. Empat, Lima dan Enam bulan Surat Yusuf
  3. Tujuh, Delapan dan Sembilan Surat ar-Rahman dan Maryam
Faedah :
  1. Surat Muhammad dan al-Luqman adalah insyaAllah akan baik akhlak anaknya
  2. Surat Yusuf adalah insyaAllah akan baik rupa dan paras anaknya
  3. Surat ar-Rahman dan Maryam adalah insyaAllah akan mudah melahirkan

  • Dianjurkan selama masa kehamilan, mulai bulan pertama sampai sembilan membaca ayat 35 Surat Ali ‘Imran setiap selesai Shalat Fardhu, yaitu :
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ. إِذْ قَالَتِ امْرَاءَةُ عِمْرَانَ رَبِّ إِنِّى نَذَرْتُ لَكَ مَا فِى بَطْنِى مُحَرَّراً فَتَقـَبَّلْ مِنِّى إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ

  • Wirid Saiyidah Siti Aminah Ibunda Rasulullah, faedah wirid ini, insyaAllah anak kelak akan menjadi orang yang shalih/shalihah lagi alim. Hendaknya ibu hamil memperbanyak wirid ini setiap saat.
وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ تاَرَةً أُخْرَى

  • Kemudian dianjurkan juga selama masa kehamilan, mulai bulan pertama sampai sembilan membaca doa dibawah ini sebanyak tiga kali setiap hari setelah selesai Shalat Subuh, Magrib dan Isya’
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ. أَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شَرِّهاَ مِنْ إِبْلِيْسَ وَ جُنُوْدِهِ أُعِيْذُهُ بِالْوَاحِدِ الصَّمَدِ مِنْ كُلِّ شَرٍّ وَ اْلحَسَدِ
أَللَّهُمَّ لَكَ اْلحَمْدُ وَ مِنْكَ الْفَرْجُ وَ إِلَيْكَ اْلمُشْتَكَى وَ بِكَ اْلمُسْتَعاَنُ وَ لاَ حَوْلاَ وَ لاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ الْعَلِيِّ اْلعَظِيْمِ
  • Doa untuk Ibu hamil supaya selamat, dibaca setiap selesai shalat fardhu
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ.
أَللَّهُمَّ احْفَظْ وَلَدِى مَادَامَ فِى بَطْنىِ وَ اشْفِهِ أَنْتَ شَافٍ لاَ شِفاَءَ إِلاَّ شِفاَؤُكَ شِفاَءً عَاجِلاً لاَ يُغاَدِرُ سَقَماً وَ أَنْتَ خَيْرُ مَسْؤُوْلٍ.
أَللَّهُمَّ صَوِّرْهُ فِى بَطْنِى صُوْرَةً حَسَنَةً جَمِيْلَةً وَ ثَبِّتْ قَلْبَهُ إِيْمَاناً بِكَ وَ بِرَسُوْلِكَ.
أَللَّهُمَّ أَخْرِجْهُ مِنْ بَطْنِى وَقْتَ وِلاَدَتِى سَهْلاً وَ تَسْلِيْماً وَ لاَ مُعْسِراً وَ اْنفَعْنىِ بِهِ فىِ الدُّنْياَ وَ اْلآخِرَةِ آمِيْنَ وَ تَقَبَّلْ دُعَائِى كَمَا تَقَبَّلْتَ دُعَاءَ نَبِيِّكَ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ.
أَللَّهُمَّ احْفَظْ الْوَلَدَ الَّذِى أَخْرَجْتَ مِنْ عَالَمِ الظُّلْمِ إِلىَ عَالَمِ النُّوْرِ وَ اجْعَلْهُ صَحِيْحاً كاَمِلاً عَاقِلاً لَطِيْفاً حَاذِقاً عَالِماً عَامِلاً مُباَرَكاً مِنْ كَلاَمِكَ اْلكَرِيْمِ حَافِظاً.
أَللَّهُمَّ طَوِّلْ عُمْرَهُ وَ صَحِّحْ جَسَدَهُ وَ حَسِّنْ خُلُقَهُ وَ افْصَحْ لِساَنَهُ وَ أَحْسِنْ صَوْتَهُ لِقِرَاءَةِ اْلحَدِيْثِ وَ اْلقُرْآنِ اْلكَرِيْمِ بِـبَرْكَةِ سَيِّدِناَ ُمحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ وَ اْلحَمْدُ ِللهِ رَبِّ اْلعاَلَمِيْنَ


  • Doa untuk Suami semasa hamil membaca setiap selesai shalat fardhu
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ.
أَللَّهُمَّ احْفَظْ وَلَدِى مَادَامَ فِى بَطْنِ زَوْجَتىِ وَ اشْفِهِ أَنْتَ شَافٍ لاَ شِفاَءَ إِلاَّ شِفاَؤُكَ شِفاَءً عَاجِلاً لاَ يُغاَدِرُ سَقَماً.
أَللَّهُمَّ صَوِّرْهُ فِى بَطْنِ زَوْجَتِى صُوْرَةً حَسَنَةً جَمِيْلَةً وَ ثَبِّتْ قَلْبَهُ إِيْمَاناً بِكَ وَ بِرَسُوْلِكَ.
أَللَّهُمَّ أَخْرِجْهُ مِنْ بَطْنِ زَوْجَتِى وَقْتَ وِلاَدَتِهاَ سَهْلاً وَ تَسْلِيْماً وَ لاَ مُعْسِراً وَ اْنفَعْنىِ بِهِ فىِ الدُّنْياَ وَ اْلآخِرَةِ آمِيْنَ وَ تَقَبَّلْ دُعَائِى كَمَا تَقَبَّلْتَ دُعَاءَ نَبِيِّكَ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ.
أَللَّهُمَّ اجْعَلْهُ صَحِيْحاً كاَمِلاً وَ عَاقِلاً لَطِيْفاً حَاذِقاً عَالِماً عَامِلاً.
أَللَّهُمَّ طَوِّلْ عُمْرَهُ وَ صَحِّحْ جَسَدَهُ وَ حَسِّنْ خُلُقَهُ وَ افْصَحْ لِساَنَهُ وَ أَحْسِنْ صَوْتَهُ لِقِرَاءَةِ اْلحَدِيْثِ وَ اْلقُرْآنِ اْلكَرِيْمِ بِـبَرْكَةِ سَيِّدِناَ ُمحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ وَ اْلحَمْدُ ِللهِ رَبِّ اْلعاَلَمِيْنَ

  • Disunatkan pada saat akan melahirkan membaca Shalawat Nariyah, yaitu :
أَللَّهُمَّ صَلِّ صَلاَةً كاَمِلَةً وَ سَلِّمْ سَلاَماً تاَماًّ عَلَى سَيِّدِناَ مُحَمَّدِنِ الَّذِى تَنْحَلُّ بِهِ اْلعُقَدُ وَ تَنْفَرِجُ بِهِ اْلكُرَبُ وَ تُقْضَى بِهِ اْلحَوَائِجُ وَ تُناَلُ بِهِ الرَّغاَئِبُ وَ حُسْنُ الْخَوَاتِمِ وَ يُسْتَسْقَى اْلغَماَمُ بِوَجْهِهِ اْلكَرِيْمِ وَ عَلَى آلِهِ وَ صَحْبِهِ فِى كُلِّ لَمْحَةٍ وَ نَفَسٍ بِعَدَدِ كُلِّ مَعْلُوْمٍ لَكَ.

  • Disunatkan kepada orang yang berada disisi orang yang melahirkan membaca :
1. Ayat Kursi
اللَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لاَ تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلاَ نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي اْلأَرْضِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلاَ يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلاَّ بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضَ وَلاَ يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ


2. Ayat 54 Surat al-A’raf

إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُومَ مُسَخَّرَاتٍ بِأَمْرِهِ أَلاَ لَهُ الْخَلْقُ وَاْلأَمْرُ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ


3. Surat al-Falaq

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ. مِن شَرِّ مَا خَلَقَ. وَمِن شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ. وَمِن شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ. وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ



4. Surat an-Naas


قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاس. مَلِكِ النَّاسِ. إِلَهِ النَّاسِ. مِن شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ. الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ. مِنَ الْجِنَّةِ وَ النَّاسِ

5. Doa Karbi, yaitu :
لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ اْلعَظِيْمُ اْلحَلِيْمُ. لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ رَبُّ الْعَرْشِ اْلعَظِيْمِ. لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ رَبُّ السَّماَوَاتِ السَّبْعِ وَ رَبُّ اْلأَرْضِ وَ رَبُّ اْلعَرْشِ اْلكَرِيْمِ


6. Doa Nabi Yunus, yaitu :

لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّى كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِيْنَ

  • Apabila ibu sukar (mengalami kendala saat) melahirkan maka dituliskan (doa/rajah) pada bejana (piring) yang baru, kemudian dihapuskan dengan air (dituangkan air ke dalam piring tersebut) lalu sebahagiannya diminumkan kepada ibu yang sedang melahirkan dan sebahaian lain dipercikkan kewajahnya, yaitu ;

اخرج أيها الولد من بطن ضيقة إلى سعة هذه الدنيا
اخرج بقدرة الله الذي جعلك في قرار مكين إلى قدر معلوم
لو أنزلنا هذا القرآن على جبل لرأيته خاشعا متصدعا من خشية الله وتلك الأمثال نضربها للناس لعلهم يتفكرون هو الله الذي لا إله إلا هو عالم الغيب والشهادة هو الرحمن الرحيم هو الله الذي لا إله إلا هو الملك القدوس السلام المؤمن المهيمن العزيز الجبار المتكبر سبحان الله عما يشركون
هو الله الخالق البارئ المصور له الأسماء الحسنى يسبح له ما في السماوات والأرض وهو العزيز الحكيم
وننـزل من القرآن ما هو شفاء ورحمة للمؤمنين

  • Disunatkan ketika bayi baru lahir (laki-laki atau perempuan) :
1.  Mengumandangkan azan pada telinga kanannya
2.  Membaca Surat al-Ikhlash pada telinga kanannya
3.  Membaca Surat al-Qadr
إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ. وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ. لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ. تَنَزَّلُ الْمَلائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمْرٍ. سَلامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ

4.   Membaca Ayat 36 Surat Ali ‘Imran
وَإِنِّي أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

5.  Membaca Iqamah pada telinga kiri
6.   Mencicipi bayi dengan buah kurma, bila tidak ada maka dengan makanan yang manis yang tidak tersentuh api, seperti anggur dan lainnya. Hal ini sebaiknya dilakukan oleh laki-laki yang shalih.
7.   Mencukur rambut pada hari ketujuh dari kelahiran. Kemudian rambut bayi ditimbang dengan timbangan emas dan disunatkan bersadaqah seberat kadar rambutnya.
  • Doa mencukur rambut bayi
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ. أَللَّهُمَّ نُوْرُ السَّمَاوَاتِ وَ نُوْرُ الشَّمْسِ وَ اْلقَمَرِ. أَللَّهُمَّ سِرُّ اللهِ نُوْرُ النُّبُوَّةِ رَسُوْلِ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ

8.  Memberi nama pada hari ketujuh dengan nama-nama yang baik/islami.
9.  Menyembelih aqiqah pada hari ketujuh.
  •     Doa memberi nama bayi/Aqiqah

أَللَّهُمَّ إِناَّ نَسْئَلُكَ السَّلاَمَةَ فِى الدُّنْياَ وَ الدِّيْنِ وَ الزِّياَدَةَ وَ الْبَرَكَةَ فىِ اْلعِلْمِ وَ الرِّزْقَ اْلمَرْزُوْقِيْنَ
أَللَّهُمَّ إِنَّكَ عَلَّمْتَ آدَمَ اْلأَسْمَاءَ كُلَّهاَ فَقَدْ أَمَرَناَ نَبِـيُّناَ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ بِإِحْسَانِهَا فَهَا نَحْنُ نُسَمِّى هَذَا اْلوَلَدَ بِإِسْمٍ يُنَاسِبُ هَذَا اْلبَلَدَ (.....)
إِلَهَنَا أَصْبَحْناَ عَلَى فِطْرَةِ اْلإِسْلاَمِ وَ عَلىَ كَلِمَةِ اْلإِخْلاَصِ وَ عَلىَ دِيْنِ نَبِـيِّناَ مُحَمَّدٍ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ وَ عَلىَ مِلَّةِ أَبِيْناَ إِبْراَهِيْمَ حَنِيْفاً مُسْلِماً وَ ماَ كَانَ مِنَ اْلمُشْرِكِيْنَ
أَللَّهُمَّ إِناَّ نَسْئَلُكَ لِسَاناً ذَاكِراً وَ قَلْباً شَاكِراً وَ بَدَناً صَابِراً وَ زَوْجَةً تُعِيْـنُناَ فىِ الدُّنْياَ وَ الآخِرَةِ وَ نَعُوْذُبِكَ مِنْ وَلَدٍ يُكُوْنُ عَلَيْناَ سَيِّداً وَ مِنْ إِمْراَءَةٍ تُشَيِّـبُناَ قَبْلَ وَقْتِ اْلمُشِيْبِ وَ مِنْ مَالٍ يَكُوْنُ عَذَاباً لَناَ وَ وَباَلاً عَلَيْناَ وَ مِنْ جاَرٍ إِنْ رَائَى مِناَّ حَسَنَةً كَتَمَهَا وَ إِنْ رَائَى مِنَّا سَيِّئَةً أَفْشَاهَا تَقَبَّلْ عَقِيْقَـتَهاَ رَبَّناَ بِرَحْمَتِكَ ياَ أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

Fakta Sejarah Hitam Sekte Wahabi

Wahabi Movement
Bismillah Ar-rahmaan Ar-rahiim.

Pada kesempatan kali ini akan kami ketengahkan fakta sejarah munculnya sekte wahhabiyyah agar para pembaca semua mengetahui bagaimana sekte ini muncul.
Permulaan munculnya Muhammad ibn Abdil Wahhab ini ialah di wilayah timur sekitar tahun 1143 H. Gerakannya yang dikenal dengan nama Wahhabiyyah mulai tersebar di wilayah Nejd dan daerah-daerah sekitarnya. Muhammad ibn Abdil Wahhab meninggal pada tahun 1206 H. Ia banyak menyerukan berbagai ajaran yang ia anggap sebagai berlandaskan al-Qur’an dan Sunnah. Ajarannya tersebut banyak ia ambil atau tepatnya ia hidupkan kembali dari faham-faham Ibn Taimiyah yang sebelumnya telah padam, di antaranya; mengharamkan tawassul dengan Rasulullah, mengharamkan perjalanan untuk ziarah ke makam Rasulullah atau makam lainnya dari para Nabi dan orang-orang saleh untuk tujuan berdoa di sana dengan harapan dikabulkan oleh Allah, mengkafirkan orang yang memanggil dengan “Ya Rasulallah…!”, atau “Ya Muhammad…!”, atau seumpama “Ya Abdal Qadir…! Tolonglah aku…!” kecuali, menurut mereka, bagi yang hidup dan yang ada di hadapan saja, mengatakan bahwa talak terhadap isteri tidak jatuh jika dibatalkan. Menurutnya talak semacam itu hanya digugurkan dengan membayar kaffarah saja, seperti orang yang bersumpah dengan nama Allah, namun ia menyalahinya.

Selain menghidupkan kembali faham-faham Ibn Taimiyyah, Muhammad ibn Abdil Wahhab juga membuat faham baru, di antaranya; mengharamkan mengenakan hirz (semacam jimat) walaupun di dalamnya hanya terkandung ayat-ayat al-Qur’an atau nama-nama Allah, mengharamkan bacaan keras dalam shalawat kepada Rasulullah setelah mengumandangkan adzan. Kemudian para pengikutnya, yang kenal dengan kaum Wahhabiyyah, mengharamkan perayaan maulid Nabi Muhammad Shollallaah ‘alaih wa sallam.  Hal ini berbeda dengan Imam mereka, yaitu Ibn Taimiyah, yang justru membolehkannya.
Syekh as-Sayyid Ahmad Zaini Dahlan, mufti Mekah pada masanya di sekitar masa akhir kesultanan Utsmaniyyah, dalam kitab Târikh yang beliau tulis menyebutkan sebagai berikut:
“Pasal; Fitnah kaum Wahhabiyyah. Dia -Muhammad ibn Abdil Wahhab- pada permulaannya adalah seorang penunut ilmu di wilayah Madinah. Ayahnya adalah salah seorang ahli ilmu, demikian pula saudaranya; Syekh Sulaiman ibn Abdil Wahhab. Ayahnya, yaitu Syekh Abdul Wahhab dan saudaranya Syekh Sulaiman, serta banyak dari guru-gurunya mempunyai firasat bahwa Muhammad ibn Abdil Wahhab ini akan membawa kesesatan. Hal ini karena mereka melihat dari banyak perkataan dan perilaku serta penyelewengan-penyelewengan Muhammad ibn Abdil Wahhab itu sendiri dalam banyak permasalahan agama. Mereka semua mengingatkan banyak orang untuk mewaspadainya dan menghindarinya. Di kemudian hari ternyata Allah menentukan apa yang telah menjadi firasat mereka terjadi pada diri Muhammad ibn Abdil Wahhab. Ia telah banyak membawa ajaran sesat hingga menyesatkan orang-orang yang bodoh. Ajaran-ajarannya tersebut banyak yang berseberangan dengan para ulama agama ini. bahkan dengan ajarannya itu ia telah mengkafirkan orang-orang Islam sendiri. Ia mengatakan bahwa ziarah ke makam Rasulullah, tawassul dengannya, atau tawassul dengan para nabi lainnya atau para wali Allah dan orang-orang, serta menziarahi kubur mereka untuk tujuan mencari berkah adalah perbuatan syirik. Menurutnya bahwa memanggil nama Nabi ketika bertawassul adalah perbuatan syirik. Demikian pula memanggil nabi-nabi lainnya, atau memanggil para wali Allah dan orang-orang saleh untuk tujuan tawassul dengan mereka adalah perbuatan syirik. Ia juga meyakini bahwa menyandarkan sesuatu kepada selain Allah, walaupun dengan cara majâzi (metapor) adalah perbuatan syirik, seperti bila seseorang berkata: “Obat ini memberikan manfa’at kepadaku” atau “Wali Allah si fulan memberikan manfaat apa bila bertawassul dengannya”. Dalam menyebarkan ajarannya ini, Muhammad ibn Abdil Wahhab mengambil beberapa dalil yang sama sekali tidak menguatkannya. Ia banyak memoles ungkapan-ungkapan seruannya dengan kata-kata yang menggiurkan dan muslihat hingga banyak diikuti oleh orang-orang awam. Dalam hal ini Muhammad ibn Abdil Wahhab telah menulis beberapa risalah untuk mengelabui orang-orang awam, hingga banyak dari orang-orang awam tersebut yang kemudian mengkafirkan orang-orang Islam dari para ahli tauhid” (al-Futûhat al-Islâmiyyah, j. 2, h. 66).
Dalam kitab tersebut kemudian Syekh as-Sayyid Ahmad Zaini Dahlan menuliskan:
“Banyak sekali dari guru-guru Muhammad ibn Abdil Wahhab ketika di Madinah mengatakan bahwa dia akan menjadi orang yang sesat, dan akan banyak orang yang akan sesat karenanya. Mereka adalah orang-orang yang dihinakan oleh Allah dan dijauhkan dari rahmat-Nya. Dan kemudian apa yang dikhawatirkan oleh guru-gurunya tersebut menjadi kenyataan. Muhammad ibn Abdil Wahhab sendiri mengaku bahwa ajaran yang ia serukannya ini adalah sebagai pemurnian tauhid dan untuk membebaskan dari syirik. Dalam keyakinannya bahwa sudah sekitar enam ratus tahun ke belakang dari masanya seluruh manusia ini telah jatuh dalam syirik dan kufur. Ia mengaku bahwa dirinya datang untuk memperbaharui agama mereka. Ayat-ayat al-Qur’an yang turun tentang orang-orang musyrik ia berlakukan bagi orang-orang Islam ahli tauhid. Seperti firman Allah: “Dan siapakah yang lebih sesat dari orang yang berdoa kepada selain Allah; ia meminta kepada yang tidak akan pernah mengabulkan baginya hingga hari kiamat, dan mereka yang dipinta itu lalai terhadap orang-orang yang memintanya” (QS. al-Ahqaf: 5), dan firman-Nya: “Dan janganlah engkau berdoa kepada selain Allah terhadap apa yang tidak memberikan manfa’at bagimu dan yang tidak memberikan bahaya bagimu, jika bila engkau melakukan itu maka engkau termasuk orang-orang yang zhalim” (QS. Yunus: 106), juga firman-Nya: ”Dan mereka yang berdoa kepada selain Allah sama sekali tidak mengabulkan suatu apapun bagi mereka” (QS. al-Ra’ad: 1), serta berbagai ayat lainnya. Muhammad ibn Abdil Wahhab mengatakan bahwa siapa yang meminta pertolongan kepada Rasulullah atau para nabi lainnya, atau kepada para wali Allah dan orang-orang saleh, atau memanggil mereka, atau juga meminta syafa’at kepada mereka maka yang melakukan itu semua sama dengan orang-orang musyrik, dan menurutnya masuk dalam pengertian ayat-ayat di atas. Ia juga mengatakan bahwa ziarah ke makam Rasulullah atau para nabi lainnya, atau para wali Allah dan orang-orang saleh untuk tujuan mencari berkah maka sama dengan orang-orang musyrik di atas. Dalam al-Qur’an Allah berfirman tentang perkataan orang-orang musyrik saat mereka menyembah berhala: “Tidaklah kami menyembah mereka -berhala-berhala- kecuali untuk mendekatkan diri kepada Allah” (QS. al-Zumar: 3), menurut Muhammad ibn Abdil Wahhab bahwa orang-orang yang melakukan tawassul sama saja dengan orang-orang musyrik para penyembah berhala yang mengatakan tidaklah kami menyembah berhala-berhala tersebut kecuali untuk mendekatkan diri kepada Allah” (al-Futûhat al-Islâmiyyah, j. 2, h. 67).
Pada halaman selanjutnya Syekh as-Sayyid Ahmad Zaini Dahlan menuliskan:
“Al-Bukhari telah meriwayatkan dari Abdullah ibn Umar dari Rasulullah dalam menggambarkan sifat-sifat orang Khawarij bahwa mereka mengutip ayat-ayat yang turun tentang orang-orang kafir dan memberlakukannya bagi orang-orang mukmin. Dalam Hadits lain dari riwayat Abdullah ibn Umar pula bahwa Rasulullah telah bersabda: “Hal yang paling aku takutkan di antara perkara yang aku khawatirkan atas umatku adalah seseorang yang membuat-buat takwil al-Qur’an, ia meletakan -ayat-ayat al-Qur’an tersebut- bukan pada tempatnya”. Dua riwayat Hadits ini benar-benar telah terjadi pada kelompok Wahhabiyyah ini” (al-Futûhat al-Islâmiyyah, j. 2, h. 68).
Syekh as-Sayyid Ahmad Zaini Dahlan masih dalam buku tersebut menuliskan pula:
“Di antara yang telah menulis karya bantahan kepada Muhammad ibn Abdil Wahhab adalah salah seorang guru terkemukanya sendiri, yaitu Syekh Muhammad ibn Sulaiman al-Kurdi, penulis kitab Hâsyiah Syarh Ibn Hajar Alâ Matn Bâ Fadlal. Di antara tulisan dalam karyanya tersebut Syekh Sulaiman mengatakan: Wahai Ibn Abdil Wahhab, saya menasehatimu untuk menghentikan cacianmu terhadap orang-orang Islam” (al-Futûhat al-Islâmiyyah, j. 2, h. 69).
Masih dalam kitab yang sama Syekh as-Sayyid Ahmad Zaini Dahlan juga menuliskan:
“Mereka (kaum Wahhabiyyah) malarang membacakan shalawat atas Rasulullah setelah dikumandangkan adzan di atas menara-menara. Bahkan disebutkan ada seorang yang saleh yang tidak memiliki penglihatan, beliau seorang pengumandang adzan. Suatu ketika setelah mengumandangkan adzan ia membacakan shalawat atas Rasulullah, ini setelah adanya larangan dari kaum Wahhabiyyah untuk itu. Orang saleh buta ini kemudian mereka bawa ke hadapan Muhammad ibn Abdil Wahhab, selanjutnya ia memerintahkan untuk dibunuh. Jika saya ungkapkan bagimu seluruh apa yang diperbuat oleh kaum Wahhabiyyah ini maka banyak jilid dan kertas dibutuhkan untuk itu, namun setidaknya sekedar inipun cukup” (al-Futûhat al-Islâmiyyah, j. 2, h. 77).
Di antara bukti kebenaran apa yang telah ditulis oleh Syekh as-Sayyid Ahmad Zaini Dahlan dalam pengkafiran kaum Wahhabiyyah terhadap orang yang membacakan shalawat atas Rasulullah setelah dikumandangkan adzan adalah peristiwa yang terjadi di Damaskus Syiria (Syam). Suatu ketika pengumandang adzan masjid Jami’ al-Daqqaq membacakan shalawat atas Rasulullah setelah adzan, sebagaimana kebiasaan di wilayah itu, ia berkata: “as-Shalât Wa as-Salâm ‘Alayka Ya Rasûlallâh…!”, dengan nada yang keras. Tiba-tiba seorang Wahhabi yang sedang berada di pelataran masjid berteriak dengan keras: “Itu perbuatan haram, itu sama saja dengan orang yang mengawini ibunya sendiri…”. 

Kemudian terjadi pertengkaran antara beberapa orang Wahhabi dengan orang-orang Ahlussunnah, hingga orang Wahhabi tersebut dipukuli. Akhirnya perkara ini dibawa ke mufti Damaskus saat itu, yaitu Syekh Abu al-Yusr Abidin. Kemudian mufti Damaskus ini memanggil pimpinan kaum Wahhabiyyah, yaitu Nashiruddin al-Albani, dan membuat perjanjian dengannya untuk tidak menyebarkan ajaran Wahhabi. Syekh Abu al-Yusr mengancamnya bahwa jika ia terus mengajarkan ajaran Wahhabi maka ia akan dideportasi dari Syiria.
Kemudian Syekh as-Sayyid Ahmad Zaini Dahlan menuliskan:
“Muhammad ibn Abdil Wahhab, perintis berbagai gerakan bid’ah ini, sering menyampaikan khutbah jum’at di masjid ad-Dar’iyyah. Dalam seluruh khutbahnya ia selalu mengatakan bahwa siapapun yang bertawassul dengan Rasulullah maka ia telah menjadi kafir. Sementara itu saudaranya sendiri, yaitu Syekh Sulaiman ibn Abdil Wahhab adalah seorang ahli ilmu. Dalam berbagai kesempatan, saudaranya ini selalu mengingkari Muhammad ibn Abdil Wahhab dalam apa yang dia lakukan, ucapkan dan segala apa yang ia perintahkan. Sedikitpun, Syekh Sulaiman ini tidak pernah mengikuti berbagai bid’ah yang diserukan olehnya. Suatu hari Syekh Sulaiman berkata kepadanya: “Wahai Muhammad Berapakah rukun Islam?” Muhammad ibn Abdil Wahhab menjawab: “Lima”. Syekh Sulaiman berkata: “Engkau telah menjadikannya enam, dengan menambahkan bahwa orang yang tidak mau mengikutimu engkau anggap bukan seorang muslim”.
Suatu hari ada seseorang berkata kepada Muhammad ibn Abdil Wahhab: “Berapa banyak orang yang Allah merdekakan (dari neraka) di setiap malam Ramadlan? Ia menjawab: “Setiap malam Ramadlan Allah memerdekakan seratus ribu orang, dan di akhir malam Allah memerdekakan sejumlah orang yang dimerdekakan dalam sebulan penuh”. Tiba-tiba orang tersebut berkata: “Seluruh orang yang mengikutimu jumlah mereka tidak sampai sepersepuluh dari sepersepuluh jumlah yang telah engkau sebutkan, lantas siapakah orang-orang Islam yang dimerdekakan Allah tersebut?! Padahal menurutmu orang-orang Islam itu hanyalah mereka yang mengikutimu”. Muhammad ibn Abdil Wahhab terdiam tidak memiliki jawaban.
Ketika perselisihan antara Muhammad ibn Abdil Wahhab dengan saudaranya; Syekh Sulaiman semakin memanas, saudaranya ini akhirnya khawatir terhadap dirinya sendiri. Karena bisa saja Muhammad ibn Abdil Wahhab sewaktu-waktu menyuruh seseorang untuk membunuhnya. Akhirnya ia hijrah ke Madinah, kemudian menulis karya sebagai bantahan kepada Muhammad ibn Abdil Wahhab yang kemudian ia kirimkan kepadanya. Namun, Muhammad ibn Abdil Wahhab tetap tidak bergeming dalam pendirian sesatnya. Demikian pula banyak para ulama madzhab Hanbali yang telah menulis berbagai risalah bantahan terhadap Muhammad ibn Abdil Wahhab yang mereka kirimkan kepadanya. Namun tetap Muhammad ibn Abdil Wahhab tidak berubah sedikitpun.
Suatu ketika, salah seorang kepala suatu kabilah yang cukup memiliki kekuatan hingga Muhammad ibn Abdil Wahhab tidak dapat menguasainya berkata kepadanya: ”Bagaimana sikapmu jika ada seorang yang engkau kenal sebagai orang yang jujur, amanah, dan memiliki ilmu agama berkata kepadamu bahwa di belakang suatu gunung terdapat banyak orang yang hendak menyerbu dan membunuhmu, lalu engkau kirimkan seribu pasukan berkuda untuk mendaki gunung itu dan melihat orang-orang yang hendak membunuhmu tersebut, tapi ternyata mereka tidak mendapati satu orangpun di balik gunung tersebut, apakah engkau akan membenarkan perkataan yang seribu orang tersebut atau satu orang tadi yang engkau anggap jujur?” Muhammad ibn Abdil Wahhab menjawab: ”Saya akan membenarkan yang seribu orang”. Kemudian kepada kabilah tersebut berkata: ”Sesungguhnya para ulama Islam, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal, dalam karya-karya mereka telah mendustakan ajaran yang engkau bawa, mereka mengungkapkan bahwa ajaran yang engkau bawa adalah sesat, karena itu kami mengikuti para ulama yang banyak tersebut dalam menyesatkan kamu”. Saat itu Muhammad ibn Abdil Wahhab sama sekali tidak berkata-kata.
Terjadi pula sebuah peristiwa, suatu saat seseorang berkata kepada Muhammad ibn Abdil Wahhab: ”Ajaran agama yang engkau bawa ini apakah ini bersambung (hingga Rasulullah) atau terputus?”. Muhammad ibn Abdil Wahhab menjawab: ”Seluruh guru-guruku, bahkan guru-guru mereka hingga enam ratus tahun lalu, semua mereka adalah orang-orang musyrik”. Orang tadi kemudian berkata: ”Jika demikian ajaran yang engkau bawa ini terputus! Lantas dari manakah engkau mendapatkannya?” Ia menjawab: ”Apa yang aku serukan ini adalah wahyu ilham seperti Nabi Khadlir”. Kemudian orang tersebut berkata: ”Jika demikian berarti tidak hanya kamu yang dapat wahyu ilham, setiap orang bisa mengaku bahwa dirinya telah mendapatkan wahyu ilham. Sesungguhnya melakukan tawassul itu adalah perkara yang telah disepakati di kalangan Ahlussunnah, bahkan dalam hal ini Ibn Taimiyah memiliki dua pendapat, ia sama sekali tidak mengatakan bahwa orang yang melakukan tawassul telah menjadi kafir” (ad-Durar as-Saniyyah Fî ar-Radd ‘Alâ al-Wahhâbiyyah, h. 42-43).
Yang dimaksud oleh Muhammad ibn Abdil Wahhab bahwa orang-orang terdahulu dalam keadaan syirik hingga enam ratus tahun ke belakang dari masanya ialah hingga tahun masa hidup Ibn Taimiyah, yaitu hingga sekitar abad tujuh dan delapan hijriyah ke belakang. Menurut Muhammad ibn Abdil Wahhab dalam rentang masa antara hidup Ibn Taimiyah, yaitu di abad tujuh dan delapan hijriyah dengan masa hidupnya sendiri yaitu pada abad dua belas hijriyah, semua orang di dalam masa tersebut adalah orang-orang musyrik. Ia memandang dirinya sendiri sebagai orang yang datang untuk memperbaharui tauhid. Dan ia menganggap bahwa hanya Ibn Taimiyah yang selaras dengan jalan dakwah dirinya. Menurutnya, Ibn Taimiyah di masanya adalah satu-satunya orang yang menyeru kepada Islam dan tauhid di mana saat itu Islam dan tauhid tersebut telah punah. Lalu ia mengangap bahwa hingga datang abad dua belas hijriyah, hanya dirinya seorang saja yang melanjutkan dakwah Ibn Taimiyah tersebut. 

Klaim Muhammad ibn Abdil Wahhab ini sungguh sangat sangat aneh, bagaimana ia dengan sangat berani mengkafirkan mayoritas umat Islam Ahlussunnah yang jumlahnya ratusan juta, sementara ia menganggap bahwa hanya pengikutnya sendiri yang benar-benar dalam Islam?! Padahal jumalah mereka di masanya hanya sekitar seratus ribu orang. Kemudian di Najd sendiri, yang merupakan basis gerakannya saat itu, mayoritas penduduk wilayah tersebut di masa hidup Muhammad ibn Abdil Wahhab tidak mengikuti ajaran dan faham-fahamnya. Hanya saja memang saat itu banyak orang di wilayah tersebut takut terhadap dirinya, oleh karena prilakunya yang tanpa segan membunuh orang-orang yang tidak mau mengikuti ajakannya.
Perilaku jahat Muhammad ibn Abdil Wahhab ini sebagaimana diungkapkan oleh al-Amir ash-Shan’ani, penulis kitab Subul as-Salâm Syarh Bulûgh al-Marâm. Pada awalnya, ash-Shan’ani memuji-muji dakwah Muhammad ibn Abdil Wahhab, namun setelah ia mengetahui hakekat siapa Muhammad ibn Abdil Wahhab, ia kemudian berbalik mengingkarinya. Sebelum mengetahui siapa hakekat Muhammad ibn Abdil Wahhab, ash-Shan’ani memujinya dengan menuliskan beberapa sya’ir, yang pada awal bait sya’ir-sya’ir tersebut ia mengatakan:

سَلاَمٌ عَلَى نَجْدٍ وَمَنْ حَلّ فِي نَجْدِ وَإنْ كَانَ تَسْلِيْمِيْ عَلَى البُعْدِ لاَ يجْدِي

“Salam tercurah atas kota Najd dan atas orang-orang yang berada di dalamnya, walaupun salamku dari kejauhan tidak mencukupi”.
Bait-bait sya’ir tulisan ash-Shan’ani ini disebutkan dalam kumpulan sya’ir-sya’ir (Dîwân) karya ash-Shan’ani sendiri, dan telah diterbitkan. Secara keseluruhan, bait-bait syair tersebut juga dikutip oleh as-Syaukani dalam karyanya berjudul al-Badr at-Thâli’, juga dikutip oleh Shiddiq Hasan Khan dalam karyanya berjudul at-Tâj al-Mukallal, yang oleh karena itu Muhammad ibn Abdil Wahhab mendapatkan tempat di hati orang-orang yang tidak mengetahui hakekatnya. Padahal al-Amir ash-Shan’ani setelah mengetahui bahwa prilaku Muhammad ibn Abdil Wahhab selalu membunuh orang-orang yang tidak sepaham dengannya, merampas harta benda orang lain, mengkafirkan mayoritas umat Islam, maka ia kemudian meralat segala pujian terhadapnya yang telah ia tulis dalam bait-bait syairnya terdahulu, yang lalu kemudian balik mengingkarinya. Ash-Shan’ani kemudian membuat bait-bait sya’ir baru untuk mengingkiari apa yang telah ditulisnya terdahulu, di antaranya sebagai berikut:

رَجَعْتُ عَن القَول الّذيْ قُلتُ فِي النّجدِي فقَدْ صحَّ لِي عنهُ خلاَفُ الّذِي عندِي  ظنَنْتُ بهِ خَيْرًا فَقُـلْتُ عَـسَى عَـسَى نَجِدْ نَاصِحًا يَهْدي العبَادَ وَيستهْدِي
لقَد خَـابَ فيْه الظنُّ لاَ خَاب نصـحُنا ومَـا كلّ ظَـنٍّ للحَقَائِق لِي يهدِي
وقَـدْ جـاءَنا من أرضِـه الشيخ مِرْبَدُ فحَقّق مِنْ أحـوَاله كلّ مَا يبـدِي
وقَـد جَـاءَ مِـن تأليــفِهِ برَسَـائل يُكَـفّر أهْلَ الأرْض فيْهَا عَلَى عَمدِ
ولـفق فِـي تَكْـفِيرِهمْ كل حُــجّةٍ تَرَاهـا كبَيتِ العنْكَبوتِ لدَى النّقدِ

“Aku ralat ucapanku yang telah aku ucapkan tentang seorang yang berasal dari Najd, sekarang aku telah mengetahui kebenaran yang berbeda dengan sebelumnya”.
“Dahulu aku berbaik sangka baginya, dahulu aku berkata: Semoga kita mendapati dirinya sebagi seorang pemberi nasehat dan pemberi petunjuk bagi orang banyak”
“Ternyata prasangka baik kita tentangnya adalah kehampaan belaka. Namun demikian bukan berarti nasehat kita juga merupakan kesia-siaan, karena sesungguhnya setiap prasangka itu didasarkan kepada ketaidaktahuan akan hakekat-hakekat”.
“Telah datang kepada kami “Syekh” ini dari tanah asalnya. Dan telah menjadi jelas bagi kami dengan sejelas-jelasnya tentang segala hakekat keadaannya dalam apa yang ia tampakkan”.
“Telah datang dalam beberapa tulisan risalah yang telah ia tuliskan, dengan sengaja di dalamnya ia mengkafirkan seluruh orang Islam penduduk bumi, -selain pengikutnya sendiri-”.
“Seluruh dalil yang mereka jadikan landasan dalam mengkafirkan seluruh orang Islam penduduk bumi tersebut jika dibantah maka landasan mereka tersebut laksana sarang laba-laba yang tidak memiliki kekuatan”.
Selain bait-bait sya’ir di atas terdapat lanjutannya yang cukup panjang, dan ash-Shan’ani sendiri telah menuliskan penjelasan (syarh) bagi bait-bait syair tersebut. Itu semua ditulis oleh ash-Shan’ani hanya untuk membuka hekekat Muhammad ibn Abdil Wahhab sekaligus membantah berbagai sikap ekstrim dan ajaran-ajarannya. Kitab karya al-Amir ash-Shan’ani ini beliau namakan dengan judul “Irsyâd Dzawî al-Albâb Ilâ Haqîqat Aqwâl Muhammad Ibn ‘Abd al-Wahhâb”.
Saudara kandung Muhammad ibn Abdil Wahhab yang telah kita sebutkan di atas, yaitu Syekh Sulaiman ibn Abdil Wahhab, juga telah menuliskan karya bantahan kepadanya. Beliau namakan karyanya tersebut dengan judul ash-Shawâ-iq al-Ilâhiyyah Fî al-Radd ‘Alâ al-Wahhâbiyyah, dan buku ini telah dicetak. Kemudian terdapat karya lainnya dari Syekh Suliman, yang juga merupakan bantahan kepada Muhammad ibn Abdil Wahhab dan para pengikutnya, berjudul “Fashl al-Khithâb Fî ar-Radd ‘Alâ Muhammad Ibn ‘Abd al-Wahhâb”.

Kemudian pula salah seorang mufti madzhab Hanbali di Mekah pada masanya, yaitu Syekh Muhammad ibn Abdullah an-Najdi al-Hanbali, wafat tahun 1295 hijriyah, telah menulis sebuah karya berjudul “as-Suhub al-Wâbilah ‘Alâ Dlarâ-ih al-Hanâbilah”. Kitab ini berisi penyebutan biografi ringkas setiap tokoh terkemuka di kalangan madzhab Hanbali. Tidak sedikitpun nama Muhammad ibn Abdil Wahhab disebutkan dalam kitab tersebut sebagai orang yang berada di jajaran tokoh-tokoh madzhab Hanbali tersebut. Sebaliknya, nama Muhammad ibn Abdil Wahhab ditulis dengan sangat buruk, namanya disinggung dalam penyebutan nama ayahnya; yaitu Syekh Abdul Wahhab ibn Sulaiman. Dalam penulisan biografi ayahnya ini Syekh Muhammad ibn Abdullah an-Najdi mengatakan sebagai berikut:
“Dia (Abdul Wahhab ibn Sulaiman) adalah ayah kandung dari Muhammad yang ajaran sesatnya telah menyebar ke berbagai belahan bumi. Antara ayah dan anak ini memiliki perbedaan faham yang sangat jauh, dan Muhammad ini baru menampakan secara terang-terangan terhadap segala faham dan ajaran-ajarannya setelah kematian ayahnya. Aku telah diberitahukan langsung oleh beberapa orang dari sebagian ulama dari beberapa orag yang hidup semasa dengan Syekh Abdul Wahhab, bahwa ia sangat murka kepada anaknya; Muhammad. Karena Muhammad ini tidak mau mempelajari ilmu fiqih (dan ilmu-ilmu agama lainnya) seperti orang-orang pendahulunya. Ayahnya ini juga mempunyai firasat bahwa pada diri Muhammad akan terjadi kesesatan yang sanat besar. Kepada banyak orang Syekh Abdul Wahhab selalu mengingatkan: ”Kalian akan melihat dari Muhammad ini suatu kejahatan…”. Dan ternyata memang Allah telah mentaqdirkan apa yang telah menjadi firasat Syekh Abdul Wahhab ini.
Demikian pula dengan saudara kandungnya, yaitu Syekh Sulaiman ibn Abdil Wahhab, ia sangat mengingkari sepak terjang Muhammad ibn Abdil Wahhab. Ia banyak membantah saudaranya tersebut dengan berbagai dalil dari ayat-ayat al-Qur’an dan Hadits-Hadits, karena Muhammad ibn Abdil Wahhab tidak mau menerima apapun kecuali hanya al-Qur’an dan Hadits menurut pemahamannya saja. Muhammad ibn Abdil Wahhab sama sekali tidak menghiraukan apapun yang dinyatakan oleh para ulama, baik ulama terdahulu atau yang semasa dengannya. Yang ia terima hanya perkataan Ibn Taimiyah dan muridnya; Ibn al-Qayyim al-Jawziyyah. Apapun yang dinyatakan oleh dua orang ini, ia pandang laksana teks yang tidak dapat diganggu gugat. Kepada banyak orang ia selalu mempropagandakan pendapat-pendapat Ibn Taimiyah dan Ibn al-Qayyim al-Jawziyyah, sekalipun terkadang dengan pemahaman yang sama sekali tidak dimaksud oleh keduanya. Syekh Sulaiman menamakan karya bantahan kepadanya dengan judul Fashl al-Khithâb Fî ar-Radd ‘Alâ Muhammad Ibn ’Abd al-Wahhâb.
Syekh Sulaiman ini telah diselamatkan oleh Allah dari segala kejahatan dan marabahaya yang ditimbulkan oleh Muhammad ibn Abdil Wahhab, yang padahal hal tersebut sangat menghkawatirkan siapapun. Karena Muhammad ibn Abdil Wahhab ini, apabila ia ditentang oleh seseorang dan ia tidak kuasa untuk membunuh orang tersebut dengan tangannya sendiri maka ia akan mengirimkan orangnya untuk membunuh orang itu ditempat tidurnya, atau membunuhnya dengan cara membokongnya di tempat-tempat keramaian di malam hari, seperti di pasar. Ini karena Muhammad ibn Abdil Wahhab memandang bahwa siapapun yang menentangnya maka orang tersebut telah menjadi kafir dan halal darahnya.
Disebutkan bahwa di suatu wilayah terdapat seorang gila yang memiliki kebiasaan membunuh siapapun yang ada di hadapannya. Kemudian Muhammad ibn Abdil Wahhab memerintahkan orang-orangnya untuk memasukkan orang gila tersebut dengan pedang ditangannya ke masjid di saat Syekh Sulaiman sedang sendiri di sana. Ketika orang gila itu dimasukan, Syekh Sulaiman hanya melihat kepadanya, dan tiba-tiba orang gila tersebut sangat ketakutan darinya. Kemudian orang gila tersebut langsung melemparkan pedangnya, sambil berkata: ”Wahai Sulaiman janganlah engkau takut, sesungguhnya engkau adalah termasuk orang-orang yang aman”. Orang gila itu mengulang-ulang kata-katanya tersebut. Tidak diragukan lagi bahwa hal ini jelas merupakan karamah” (as-Suhub al-Wâbilah Ala Dlara-ih al-Hanbilah, h. 275).
Dalam tulisan Muhammad ibn Abdullah an-Najdi di atas disebutkan bahwa Syekh Abdul Wahhab sangat murka sekali kepada anaknya; Muhammad ibn Abdil Wahhab, karena tidak mau mempelajari ilmu fiqih, ini artinya bahwa dia sama sekali bukan seorang ahli fiqih dan bukan seorang ahli Hadits. Adapun yang membuat dia sangat terkenal tidak lain adalah karena ajarannya yang sangat ekstrim dan menyeleweng. Sementara para pengikutnya yang sangat mencintainya, hingga mereka menggelarinya dengan Syekh al-Islâm atau Mujaddid, adalah klaim laksana panggang yang sangat jauh dari api. Para pengikutnya yang lalai dan terlena tersebut hendaklah mengetahui dan menyadari bahwa tidak ada seorangpun dari sejarawan terkemuka di abad dua belas hijriyah yang mengungkap biografi Muhammad ibn Abdil Wahhab dengan menyebutkan bahwa dia adalah seorang ahli fiqih atau seorang ahli Hadits.
Syekh Ibn Abidin al-Hanafi dalam karyanya; Hâsyiyah Radd al-Muhtâr ‘Alâ ad-Durr al-Mukhtâr menuslikan sebagai berikut:
“Penjelasan; Perihal para pengikut Muhammad ibn Abdil Wahhab sebagai kaum Khawarij di zaman kita ini. Pernyataan pengarang kitab (yang saya jelaskan ini) tentang kaum Khawarij: “Wa Yukaffirûn Ash-hâba Nabiyyina…”, bahwa mereka adalah kaum yang mengkafirkan para sahabat Rasulullah, artinya kaum Khawarij tersebut bukan hanya mengkafirkan para sahabat saja, tetapi kaum Khawarij adalah siapapun mereka yang keluar dari pasukan Ali ibn Abi Thalib dan memberontak kepadanya. Kemudian dalam keyakinan kaum Khawajij tersebut bahwa yang memerangi Ali ibn Abi Thalib, yaitu Mu’awiyah dan pengikutnya, adalah juga orang-orang kafir. Kelompok Khawarij ini seperti yang terjadi di zaman kita sekarang, yaitu para pengikut Muhammad ibn Abdil Wahhab yang telah memerangi dan menguasai al-Haramain; Mekkah dan Madinah. Mereka memakai kedok madzhab Hanbali. Mereka meyakini bahwa hanya diri mereka yang beragama Islam, sementara siapapun yang menyalahi mereka adalah orang-orang musyrik. Lalu untuk menegakan keyakinan ini mereka mengahalalkan membunuh orang-orang Ahlussunnah. Oleh karenanya banyak di antara ulama Ahlussunnah yang telah mereka bunuh. Hingga kemudian Allah menghancurkan kekuatan mereka dan membumihanguskan tempat tinggal mereka hingga mereka dikuasai oleh balatentara orang-orang Islam, yaitu pada tahun seribu dua ratus tiga puluh tiga hijriyah (th 1233 H)” (Radd al-Muhtâr ‘Alâ ad-Durr al-Mukhtâr, j. 4, h. 262; Kitab tentang kaum pemberontak.).
Salah seorang ahli tafsir terkemuka; Syekh Ahmad ash-Shawi al-Maliki dalam ta’lîq-nya terhadap Tafsîr al-Jalâlain menuliskan sebagai berikut:
“Menurut satu pendapat bahwa ayat ini turun tentang kaum Khawarij, karena mereka adakah kaum yang banyak merusak takwil ayat-ayat al-Qur’an dan Hadits-Hadits Rasulullah. Mereka menghalalkan darah orang-orang Islam dan harta-harta mereka. Dan kelompok semacam itu pada masa sekarang ini telah ada. Mereka itu adalah kelompok yang berada di negeri Hijaz; bernama kelompok Wahhabiyyah. Mereka mengira bahwa diri mereka adalah orang-orang yang benar dan terkemuka, padahal mereka adalah para pendusta. Mereka telah dikuasai oleh setan hingga mereka lalai dari mengenal Allah. Mereka adalah golongan setan, dan sesungguhnya golongan setan adalah orang-orang yang merugi. Kita berdo’a kepada Allah, semoga Allah menghancurkan mereka” (Mir-ât an-Najdiyyah, h. 86).
Semoga bermanfaat.

Follow Me on twitter @saaannn_3

Adsense Menu