Diberdayakan oleh Blogger.

Khoirunnas, 'anfauhum linnas


RSS

Senin, 17 September 2012

Ketika Merindukan Dia

Tak bisa disangkal, manusia akan selalu bersentuhan dengan cinta. Sementara kecintaan memberikan buah kerinduan. Orang yang mencinta akan rindu kepada orang yang dicintainya.
Kerinduan kepada kekasih, seringkali membekaskan duka. Karena sudah tahu bahwa pacaran bukanlah jalan yang halal untuk ditempuh, maka nikahlah satu-satunya yang jadi pilihan. Padahal si pria belum mampu memberi nafkah lahir. Wanita pun masih muda dan dituntut oleh orang tua untuk menyelesaikan sekolah atau meraih gelar. Akhirnya, karena tidak kesampaian untuk nikah, maka pacaran terselubung sebagai jalan keluar karena tidak kuat menahan rasa rindu pada si dia. Lewat chatting, inbox FB atau sms jadi jalur alternatif.
Inilah yang dialami pemuda masa kini. Mungkin juga dialami para aktivis dakwah. Agar dikira tidak melalui pacaran, maka sms dan chatting yang jadi pilihan. Seharusnya rasa rindu ini bisa dipendam dengan melakukan beberapa kiat yang akan kami utarakan. Semoga Allah senantiasa memberi taufik.

Terapi dari Rasa Rindu dengan Segera Nikah
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
 Wahai para pemuda, barangsiapa yang memiliki baa-ah2, maka menikahlah. Karena itu lebih akan menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Barangsiapa yang belum mampu, maka berpuasalah karena puasa itu bagai obat pengekang baginya.”

Yang dimaksud dengan syabab (pemuda) di sini adalah siapa saja yang belum mencapai usia 30 tahun. Inilah pendapat ulama-ulama Syafi’iyah.
Secara bahasa, baa-ah bermakna jima’ (berhubungan suami istri). Sedangkan mengenai makna baa’ah dalam hadits di atas terdapat ada dua pendapat di antara para ulama, namun intinya kembali pada satu makna.
Pertama: makna baa-ah adalah sebagaimana makna secara bahasa yaitu jima’. Sehingga makna hadits adalah barangsiapa yang mempunyai kemampuan untuk berjima’ karena mampu memberi nafkah nikah, maka menikahlah. Barangsiapa yang tidak mampu berjima’ karena ketidakmampuannya memberi nafkah, maka hendaklah ia memperbanyak puasa untuk menekan syahwatnya dan untuk menghilangkan angan-angan jeleknya.
Pendapat kedua: makna baa-ah adalah kemampuan memberi nafkah. Dimaknakan demikian karena konsekuensi dari seseorang mampu berjima’, maka tentu ia harus mampu memberi nafkah. Sehingga makna hadits adalah barangsiapa yang telah mampu memberi nafkah nikah, maka hendaklah ia menikah. Barangsiapa yang tidak mampu, maka berpuasalah untuk menekan syahwatnya.
Jadi maksud dari dua pendapat ini adalah sama yaitu harus punya kemampuan untuk memberi nafkah. Sehingga inilah yang menjadi syarat seseorang (khususnya pria) untuk membina rumah tangga dengan kekasih pilihan, yaitu ia memiliki kemampuan untuk memberi nafkah keluarga. Hal ini yang banyak disalahpahami sebagian pemuda. Mereka ngebet minta nikah pada ortunya. Padahal sesuap nasi saja masih ngemis pada ortunya. Hanya Allah yang memberi taufik.
Dari sini, barangsiapa yang memiliki kemampuan, maka segeralah untuk menikah guna memadamkan rasa rindu yang ada. Menikah di sini tidak mesti dengan orang yang selalu dirindukan. Boleh jadi, juga dengan orang lain. Karena nikah telah mencukupkan segala kebutuhan jiwa di samping dalam nikah akan ditemui banyak keberkahan. Jika memungkinkan menikah dengan orang yang dirindukan, maka menikahlah dengannya. Ini merupakan terapi manjur.

Berusaha untuk Ikhlas dalam Beribadah
Ikhlas adalah obat manjur penyakit rindu. Jika seseorang benar-benar ikhlas menghadapkan diri pada Allah, maka Allah akan menolongnya dari penyakit rindu dengan cara yang tak pernah terbetik di hati sebelumnya. Cinta pada Allah dan nikmat dalam beribadah akan mengalahkan cinta-cinta lainnya.
Ibnu Taimiyah mengatakan, “Sungguh, jika hati telah merasakan manisnya ibadah kepada Allah dan ikhlas kepada-Nya, niscaya ia tidak akan menjumpai hal-hal lain yang lebih manis, lebih indah, lebih nikmat dan lebih baik daripada Allah. Manusia tidak akan meninggalkan sesuatu yang dicintainya, melainkan setelah memperoleh kekasih lain yang lebih dicintainya. Atau karena adanya sesuatu yang ditakutinya. Cinta yang buruk akan bisa dihilangkan dengan cinta yang baik. Atau takut terhadap sesuatu yang membahayakannya.”
Hati yang tidak ikhlas akan selalu diombang-ambingkan nafsu, keinginan, tuntutan serta cinta yang memabukkan. Keadaannya tak beda dengan sepotong ranting yang meliuk ke sana kemari mengikuti arah angin.

Banyak Memohon pada Allah
Setiap do’a yang kita panjatkan pasti akan bermanfaat. Boleh jadi do’a tersebut segera dikabulkan oleh Allah. Boleh jadi sebagai simpanan di akhirat. Boleh jadi dengan do’a kita tadi, Allah akan menghilangkan kejelekan yang semisal.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
 Tidaklah seorang muslim memanjatkan do’a pada Allah selam tidak mengandung dosa dan memutuskan silaturahmi (antar kerabat, pen) melainkan Allah akan beri padanya tiga hal: [1] Allah akan segera mengabulkan do’anya, [2] Allah akan menyimpannya baginya di akhirat kelak, dan [3] Allah akan menghindarkan darinya kejelekan yang semisal.” Para sahabat lantas mengatakan, “Kalau begitu kami akan memperbanyak berdo’a.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas berkata, “Allahu akbar (Allah Maha besar).”

Ketika seseorang berada dalam kesempitan dan dia bersungguh-sungguh dalam berdo’a, merasakan kebutuhannya pada Allah, niscaya Allah akan mengabulkan do’anya. Termasuk di antaranya apabila seseorang memohon pada Allah agar dilepaskan dari penyakit rindu dan kasmaran yang terasa mengoyak-ngoyak hatinya. Penyakit yang menyebabkan dirinya gundah gulana, sedih dan sengsara. Oleh karena itu, perbanyaklah do’a.

Memenej Pandangan
Pandangan yang berulang-ulang adalah pemantik terbesar yang menyalakan api hingga terbakarlah api dengan kerinduan. Orang yang memandang dengan sepintas saja jarang yang mendapatkan rasa kasmaran. Namun pandangan yang berulang-ulanglah yang merupakan biang kehancuran. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kita untuk menundukkan pandangan agar hati ini tetap terjaga. Dari Jarir bin Abdillah, beliau mengatakan, “Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang pandangan yang cuma selintas (tidak sengaja). Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepadaku agar aku segera memalingkan pandanganku.”
Mujahid mengatakan,
 “Menundukkan pandangan dari berbagai hal yang diharamkan oleh Allah, akan menimbulkan rasa cinta pada Allah.”
Berarti menahan pandangan dari wanita yang bukan mahrom akan menimbulkan rasa cinta pada Allah. Menundukkan pandangan yang dimaksud di sini ada dua macam yaitu memandang aurat sesama jenis dan memandang wanita yang bukan mahram.
Tiga faedah dari menundukkan:
Pertama: Akan merasakan manis dan lezatnya iman. Barangsiapa meninggalkan sesuatu karena Allah, Dia akan memberi ganti dengan yang lebih baik.
Kedua: Akan memberi cahaya pada hati dan akan memiliki firasat yang begitu cemerlang.
Ketiga: Akan lebih menguatkan hati.

Lebih Giat Menyibukkan Diri
Dalam situasi kosong kegiatan biasanya seseorang lebih mudah untuk berangan memikirkan orang yang ia cintai. Dalam keadaan sibuk luar biasa berbagai pikiran tersebut mudah untuk lenyap begitu saja. Oleh karena itu, untuk memangkas kerinduan seseorang hendaknya menyibukkan diri dengan hal-hal yang bermanfaat baik untuk dunia atau akhirat. Hakikat dari rasa rindu adalah kesibukan hati yang kosong. Di kala sepi sendiri, tanpa aktivitas muncullah bayangan sang kekasih, wajah, gerak-gerik, dan segala yang berkaitan dengannya. Seluruhnya hanya sekedar bayangan dan khayalan yang berakhir dengan kesedihan diri. Tiada manfaatnya sedikit pun bagi kehidupan kita.
Ibnul Qayyim menyebutkan nasehat seorang sufi yang ditujukan pada Imam Asy Syafi’i. Ia berkata,
 Jika dirimu tidak tersibukkan dengan hal-hal yang baik (haq), pasti akan tersibukkan dengan hal-hal yang sia-sia (batil).”

Menghindari Nyanyian dan Film Percintaan
Nyanyian dan film-film percintaan memiliki andil besar untuk mengobarkan kerinduan pada orang yang dicintai. Apalagi jika nyanyian tersebut dikemas dengan mengharu biru, mendayu-dayu tentu akan menggetarkan hati orang yang sedang ditimpa kerinduan. Akibatnya rasa rindu kepadanya semakin memuncak, berbagai angan-angan yang menyimpang pun terbetik dalam hati dan pikiran. Bila demikian, sudah layak jika nyanyian dan tontonan seperti ini dan secara umum ditinggalkan. Demi keselamatan dan kejernihan hati. Sehingga sempat diungkapkan oleh beberapa ulama nyanyian adalah mantera-mantera zina.
Ibnu Mas’ud mengatakan, “Nyanyian menumbuhkan kemunafikan dalam hati sebagaimana air menumbuhkan sayuran.
Fudhail bin Iyadh mengatakan, “Nyanyian adalah mantera-mantera zina.
Adh Dhohak mengatakan, “Nyanyian itu akan merusak hati dan akan mendatangkan kemurkaan Allah.
Imam Asy Syafi’i berkata, “Nyanyian adalah suatu hal yang sia-sia yang tidak kusukai karena nyanyian itu adalah seperti kebatilan. Siapa saja yang sudah kecanduan mendengarkan nyanyian, maka persaksiannya tertolak.

Bayangkan Kekurangan Si Dia
Ingatlah selalu, orang yang engkau rindukan bukanlah pribadi yang sempurna. Ia sangat banyak kekurangan, sehingga tidak layak untuk dipuja, disanjung atau senantiasa dirindukan. Orang yang dirindukan sebenarnya tidak seperti yang dikhayalkan dalam lamuman.
Ibnul Jauzi berkata, “Sesungguhnya manusia itu penuh dengan najis dan kotoran. Sementara orang yang dimabuk cinta senantiasa melihat kekasihnya dalam keadaan sempurna. Disebabkan cinta ia tidak lagi melihat adanya aib.”
Kita bisa menghukumi sesuatu dengan timbangan keadilan sedangkan orang yang sedang kasmaran tengah dikuasai oleh hawa nafsunya sehingga tak dapat bersikap dengan adil. Kecintaannya menutupi seluruh aib yang dimiliki oleh pasangannya.
Para ahli hikmah berkata, “Mata yang diliputi oleh hawa nafsu akan menjadi buta.”

         Semoga Allah memberi taufik. Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.

Rabu, 12 September 2012

5 Kaidah Pokok Juventini



Sebelumnya, ini adalah coretan-coretan iseng saya. :)
Secara etimologi, arti qaidah adalah asas (dasar), yaitu yang menjadi dasar berdirinya sesuatu. Bisa juga diartikan dasar sesuatu dan fondasinya (pokoknya).(Al-Asfahani: 409, Az-Jaidy:171)
Dalam kaidah ushul fiqh, ada 5 kaidah pokok yang bisa dijadikan sebagai dasar untuk menentukan sebuah hukum.
Iseng-iseng, sebagai juventini yang Santri, ternyata kelima kaidah tersebut bisa dijadikan pokok/dasar yang sangat erat berkaitan dengan ciri-ciri Juventini yang dijelaskan di bawah ini:
(selamat membaca J)
1.   
   Kaidah Pertama   الامور بمقاصدها
“al umuru bi maqasidiha”
“Setiap perkara tergantung kepada maksud/niat mengerjakannya”.
“Sebagai Juventini, hanya satu niat kita : Mendukung Juventus!! Tidak ada yang lain. Seperti kata Alessandro Del Piero : di Italia, hanya ada satu klub, yaitu Juventus. Yang lainnya adalah Musuh.”
2.    
   Kaidah Kedua اليقين لايزال بالشك
“al yaqinu la yuzalu bi assyakki”
“Sesuatu yang sudah yakin tidak dapat dihilangkan dengan adanya sesuatu keraguan”
“Sekali Juve tetap Juve!!! Juve per sempre!!! Kita selalu yakin bahwa Juve adalah yang terbaik. Dan itu tidak ada keraguan di benak kita. Dan yang pasti, Juventini selalu yakin, kita punya 30, not 28.. (28 itu kata si MERDA!!!!)”
3.        
Kaidah Ketiga المشقة تجلب التيسير
al masyaqqatu tajlibu at taisir”
“Kesukaran/perkara yang berat itu mendatangkan kemudahan”
“2006, skandal calico(farso)poli mengguncang Italia. Juventus dijadikan kambing hitam sebagai pihak yang paling bersalah atas skandal itu, lewat peradilan yang sangat “kilat”, Juve dihukum turun ke Serie-B dan 2 Scudetti dicabut (wtf merda!!!). itulah masa-masa yang sangat berat bagi Juventini. Tapi dengan kesabaran kita melewati masa-masa kelam itu, kini, kita, JUVENTINI, berdiri tegak dan dengan hasil jerih payah dan kesabaran kita, La Vecchia Signora sudah kembali ke Singgasananya. (Yaa, kesukaran mendatangkan kemudahan)”
4.    
   Kaidah Keempat الضرر يزال
“ad dhararu yuzalu”
“Kemudharatan itu harus dihilangkan”.
“Merda = mudharat. Merda = Penyakit.  Merda = harus dilenyapkan. (Simple) LoL
5.     
  Kaidah Kelima  العادة محكمة
“al ‘addatu muhakkamah”
“Adat kebiasaan dapat ditetapkan sebagai hukum”.
“Sebelum menyaksikan Juve berlaga, adalah hal yang wajib untuk mengumandangkan lagu kebesaran kita, STORIA DI UN GRANDE AMORE. Kebiasaan itu sekarang sudah menjadi kewajiban bagi seorang Juventini.”


(Hehehehehehehe)
Un vero cavaliere non lascia mai una signora
https://twitter.com/saaannn_3

They Said About Juventus

Michel Platini
«I began by playing for the biggest club in the Lorraine region (AS Joeuf), went on to the biggest club in France (AC Saint Etienne) and ended up with the biggest in the world (Juventus FC).»

Alessandro Del Piero
 «I'm proud to be a "Juventino", to be a "Bandiera", like you define me to be often, in reality I'm just a small part of a big black & white "Bandiera" (flag) that grows with the years and if you look closely your name is part of it. To continue making this "Bandiera" grow we need everybody: let's stay united.»

«My bond with Juventus is very strong and I have a love for this club that goes beyond many other considerations. It’s no coincidence I stayed this year even after some difficult moments.»

«A true gentleman never leaves her lady.»

«This is my destiny. While at the peak of his career after winning the World Cup, on 9 September 2006 I arrived in Rimini to play in one of Serie B. 14 years have passed the last time I played in Serie B with Padova. But this time there are three different things; Uniform black and white, the captain's armband in the arm and the number 10 on my back.»

Dino Zoff
«There were players like Bettega, Haller, Causio. We had talent, speed, imagination and dynamism. Later we improved our physical strenght and experience by adding players like Boninsegna and Benetti. However the first Juventus still remains my favourite one.»

Ryan Giggs
«When we first played in the Champions League they (Juventus) were the top team, they were who we were aspiring to be like.»

Mario Soldati
«(Juventus were) the team of gentlemen, industrial pioneers, Jesuits, conservatives and the wealthy bourgeois.»

Mauro Camoranesi
«I’ve already congratulated Alex Del Piero for the Scudetto Victory. It has been six-year wait and I’m sure everyone is happy. There is little to say about their title triumph really this season seeing as they didn’t even lose one game. For Bianconero people, the stars are three.»

Pavel Nedved
«Juventus have given me everything. I acquired my winning mentality here; the one which makes you say every game is a battle. I've learnt to be demanding with myself and how to meet difficulties and overcome them.»

«You can live without football but not without Juventus!»

«I really want to win the Champions League, but only with black and white uniform (Bianconero)

Emilio Butragueno
«Juve will always be Juve. There are a number of teams that have a winning spirit built in and Juventus are one of them.»

Carlo Bigatto
«How could they pay for my love to the team (Juventus)?.»

John Foot
«As you travel across southern Italy, it is entirely normal to see entire teams of young players decked out in Juve shirts in kickabouts, hundreds of miles from Turin. Juventus have far more fans outside Turin than in their home-town. When they play in Sicily, or Calabria, or Milan, or Sardinia, they attract—and have always attracted—sell-out crowds.»

Gianluigi Buffon
«The men can go away, the executives can go away, but what is really though in this society are the players who has been handed down the feel of winning, of being the absolute best, which isn't equal to any other team.»

«I think the only reason we did it was our love for the club, sense of belonging at Juve, respect for the fans and friendship between us. I suffered a great deal, as six years are a long time, but it was worth the wait»

Zinedine Zidane
«I played in two of the biggest clubs in the world. There are others, but it is difficult to match the Juve or Madrid honours.»

«I learned how to win while in Juventus. There I realized that winning is an obligation. Being part of one of the biggest clubs in the world requires me to deliver maximum results. When we lose, it is a tragedy and we are obliged to work harder »

«Loved Juventus was hard, but once you know you will be a Juventino, Juventus forever»

Roy Keane
«A couple of years ago I nearly went to Juve. People spoke to me about Turin, and said it is this and it is that, but Milan would be nicer. I said 'I'm not going for the bloody shops; I'm going because it's Juventus.»


Paolo Montero
«Hatred is the reason they are all getting love my Juventus!»


Adsense Menu